Data aliran dana Bank Century berseliweran: ada yang melalui pesan pendek, ada pula yang melalui Facebook. Senin ini Panitia Khusus DPR akan meminta klarifikasi.

DOKUMEN itu terselip di sebuah akun jaringan sosial Facebook. Dikemas dalam sebuah folder foto, album itu diberi judul populer, khas anak muda: ”Enak Bener Mainin Duit di Bank Century”. Pemiliknya seorang dara yang mengaku bernama Nuky Andria. Dalam akun itu ia menyebut dirinya lulusan Universitas Moestopo dan kini bekerja di sebuah perusahaan jasa kreatif.

Pada halaman pertama file tertera tulisan besar: ”Transaksi keuangan mencurigakan atas nama ZEM, terkait penggelapan dana kas valas Bank Century”. Panjangnya delapan halaman, dimulai dengan ringkasan kasus. Di halaman kedua informasi mengenai ZEM ditulis jelas: Zederick Emir Moeis, anggota DPR, memiliki rekening giro valas.

Tak jelas bagaimana Nuky memperoleh data itu. Kepada Tempo yang menghubunginya via Facebook, ia hanya menyebut dokumen itu diperolehnya dari seorang kawan. ”Dia kesel karena koq yang konkrit tdk dikonfrontir, malah ya dicari2 yg tidak valid datanya,” kata Nuky. Siapa dara itu, tak jelas betul. Dalam akun itu ia menulis alamat e-mail dan nomor telepon seluler. Tapi, ketika dihubungi, telepon itu tak menyahut.

Namun sejumlah sumber Tempo di lembaga keuangan dan penegak hukum meyakini data dalam dokumen itu valid. Muncul dugaan: dokumen Facebook itu sengaja disebar sebagai bagian dari perang Bank Century.

Bahwa politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Emir Moeis memiliki simpanan di Bank Century, itu bukan informasi baru. Namanya muncul dalam daftar nasabah mirip politikus yang dilaporkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan kepada Panitia Khusus DPR, Januari lalu. Yang lainnya adalah Megawati, Franseda, Sri Mulyani, dan Hadi Utomo. Setelah diklarifikasi, yang benar cuma rekening atas nama Zederick Emir Moeis dan Satya Kumala Sari, istri anggota DPR Hartanto Edhie Wibowo—adik bungsu Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Tapi ketika itu informasi yang bocor cuma sedikit: ya, bahwa Emir punya rekening di Century. Demikian pula Satya Kumala, punya rekening giro valas sejak 2006, yang saat diperiksa Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan saldonya US$ 18.658, sekitar Rp 175 juta.

Dokumen Facebook membeberkan hal yang lebih terperinci. Misalnya pada 2007-2008 Emir tercatat secara rutin menerima setoran valas tanpa disertai fisik bank notes. Dia juga pernah menerima setoran valas relatif besar tapi tak tercatat dalam pembukuan Century. Setoran itu, menurut dokumen tersebut, ditengarai hasil ”permainan” valas Bank Century. ”Itu dilakukan oleh mantan Kepala Divisi Bank Notes Dewi Tantular,” kata dokumen itu.

Dalam bertransaksi Emir sering dibantu Steffanie, account officer private banking di Century. Menurut dokumen itu, Emir pernah menitipkan uang Rp 5 miliar di Bank Century melalui Steffanie. Itu terjadi pada April 2008, ketika ia menelepon Steffanie agar mengambil uang di Wisma Bakrie 2. ”Saudara Steffanie menerima dana yang sudah tersimpan rapi dalam dua kardus dan ditutup rapi dengan menggunakan lakban dari Ani,” tulis dokumen itu. Ani dijelaskan sebagai sekretaris dari Nirwan D. Bakrie, adik konglomerat Aburizal Bakrie. Yang aneh, uang tersebut bukan untuk ditabung tapi dititipkan begitu saja di kantor pusat operasional Century di Senayan untuk diambil sedikit-sedikit oleh orang suruhan Emir. Tiga bulan kemudian kejadian serupa berulang.

Ketika dimintai konfirmasi, Steffanie—dalam dokumen Facebook namanya ditulis berbeda-beda: Stefanny, Stefanie, atau Stefanni—membenarkan dia sering melakukan transaksi buat Emir. ”Namanya juga private banking, semua yang lain juga begitu,” katanya. Menurut dia, Emir nasabah lama yang telah menabung di Century sejak 2004. Tapi dia tidak mau berkomentar tentang aliran dana valas ke rekening Emir dan uang dua kardus dari sekretaris Nirwan. ”Tanya langsung saja ke orangnya,” kata dia.

Rekan Emir di DPR, Anis Matta, menyebut pernah mendengar ihwal rekening Emir di Bank Century. ”Tapi apakah itu dana bail out atau bukan, harus dibuktikan dulu,” kata Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu kepada wartawan Tempo Famega Syavira.

Emir Moeis menolak bicara mengenai dokumen ini. ”Lihat saja laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, itu yang paling benar. Saya tidak mau berpolemik,” katanya. ”Yang pasti, saya tidak menerima satu sen pun dana Century.” Nirwan D. Bakrie pun menolak bicara. Dihubungi pada Jumat malam pekan lalu, ia menjawab, ”Saya masih di luar negeri. Kalau mau hubungi, besok saja,” katanya. Tapi esoknya telepon selulernya tak diangkat.

l l l

LAGA politik di arena Century kian panas. Menjelang akhir massa kerja Panitia Khusus Hak Angket 4 Maret, saling tuding di antara partai politik berseliweran. Selain melalui akun Facebook, pekan lalu beredar pesan pendek yang mengatakan anggota DPR RI Partai Demokrat, Edhie Baskoro alias Ibas, punya rekening di Bank Century. Bukan akun pribadi melainkan perusahaan. Datanya ”kita temukan di laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan”, demikian bunyi pesan pendek itu.

Perusahaan yang dimaksud adalah Yastra Group, diduga milik Ibas, anak bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak ada kepastian tentang apakah Yastra benar-benar nasabah Century. Menurut Hendrawan Supratikno, anggota Panitia Khusus dari PDIP, perusahaan itu tidak tertera dalam daftar nasabah versi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. ”Yang saya dengar, Ibas dicurigai terkait PT Sakti Persada Raya, pelaku letter of credit fiktif yang merugikan Century US$ 24 juta,” katanya. ”Tapi ini belum terbukti.”

PT Sakti dilaporkan ke polisi bersama PT Damar Kristal Mas, PT Dwi Putra Mandiri Perkasa, dan PT Energi Quantum Eastern Indonesia pada Maret tahun lalu. Manajemen lama Bank Century menerbitkan L/C total US$ 75,2 juta untuk empat perusahaan ini. Menurut L/C, seharusnya mereka mengimpor kacang kedelai. Nyatanya impor itu tak pernah terjadi.

Sabtu pagi pekan lalu Tempo mendatangi lantai 32 menara selatan Sampoerna Strategic Square—kantor kelompok usaha Yastra. Grup ini memiliki empat perusahaan: PT Yastra Energy, PT Yastra Indonesia, PT Global Nusantara Capital, dan PT Berlian Entertainment.

Di situsnya, PT Yastra Indonesia disebut didirikan pada April 2008. Mereka mengantongi kuasa pertambangan penyelidikan umum seluas 1.346 hektare di Wundulakoin, Sulawesi Tenggara. Hingga September 2009 perusahaan ini telah memasarkan lebih dari sejuta metrik ton bijih nikel ke Cina. Sementara itu Berlian Entertainment adalah konsultan kampanye Ibas di Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Ngawi, dalam pemilu lalu.

Seorang petugas keamanan lantai 32 yang mengaku bernama Mukyar mengatakan tak mengenal Ibas alias Edhie Baskoro. Tapi petugas lain di lobi gedung menyebut bahwa Ibas sering berkunjung ke lantai 32.

Ibas tak dapat dihubungi. Juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, mengatakan tak pernah tahu Ibas punya simpanan di Century. ”Pak Presiden pun belum pernah bicara tentang itu,” katanya. ”Rasanya tidak benar. Tapi sebaiknya dicek ke Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.”

l l l

PERUSAHAAN lain yang disebut-sebut dihampiri aliran dana Bank Century adalah PT Asuransi Jaya Proteksi—penyumbang pasangan Yudhoyono-Boediono dalam kampanye lalu. Dalam salinan transaksi milik Bank Century, perusahaan ini tercatat memiliki simpanan Rp 16 miliar di Century. PT Asuransi Jaya dua kali menarik dana lima miliaran rupiah pada Mei dan Juni tahun lalu.

Menurut dokumen audit dana pemilu Kantor Akuntan Publik Usman & Rekan, PT Asuransi Jaya memang termasuk penyumbang terbesar Yudhoyono-Boediono pada saat kampanye. Mereka menyumbang empat kali dalam lima hari dengan total Rp 5 miliar, jumlah terbanyak yang diperbolehkan untuk donatur berbadan hukum. Awalnya dua aliran pada 25 Juni 2009, masing-masing Rp 850 juta dan Rp 600 juta. Esoknya setor lagi Rp 2,8 miliar, lalu Rp 750 juta.

Tempo, yang mengunjungi kantor PT Asuransi Jaya di kompleks Grand Boutique Centre Blok E Nomor 2-4, Jakarta Pusat, tak berhasil menemui direksi perusahaan itu. ”Pak Sujaya Dinata (presiden direktur—Red.) tak ada,” kata resepsionis yang enggan menyebut nama. Katanya, pimpinan perusahaan jarang berkantor di sana.

Ketua Panitia Khusus Bank Century Idrus Marham mengaku belum memiliki pelbagai dokumen aliran dana Bank Century. Dia berharap semua informasi yang simpang-siur ini akan terklarifikasi pada saat Pansus bertandang ke kantor Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Senin pekan ini. ”Info sudah ada. Kami akan minta Pusat Pelaporan memaparkan,” katanya. tempo